KONTRANARASI.COM —Kembalinya PT.Balam Energy Limited Ltd untuk beroperasi di Kabupaten Seram Bagian Timur patut diwaspadai, pasalnya operasinya perusahaan ini dikhawatirkan akan merusak lingkungan dan menciptakan konflik agraria. Hal ini diungkapkan ketua EK-LMND SBT Zulkifli Sengan pada, Sabtu (11/7/2026)
Dijelaskan, kembalinya PT Balam Energi Limited di Seram Bagian Timur (SBT) jika tidak dikaji dengan baik maka, tentu akan berdampak pada beberapa faktor meliputi kerusakan lingkungan, konflik lahan dan adat, hingga ancaman terhadap situs sakral. Selain itu, Sejarah kehadiran perusahaan di SBT memicu kekhawatiran dampak sosial, ekologis yang meluas dan berjangka panjang jika mitigasi dan pengawasan lemah
“beberapa poin diantaranya tidak bisa diabaikan berdasarkan fakta. Konflik Agraria dan Hak Ulayat. Berpotensi terjadi sengketa lahan atau penyerobotan wilayah adat. Masalah ini pernah muncul sebelumnya ketika izin eksplorasi diduga diperoleh tanpa melibatkan atau memberikan ganti rugi yang sesuai kepada pemilik hak ulayat yang sah,” Kata Zul
Lebih lanjut dijelaskan. Perusakan pada kawasan hutan adat dan Lingkungan di wilayah gunung bati yang diyakini masyarakat sebagai kawasan cagar budaya dan hutan sakral harus dilindungi. Aktivitas pertambangan atau survei seismik berisiko menimbulkan kerusakan ekosistem, pencemaran hutan, dan pendangkalan sungai yang menjadi sumber penghidupan warga.
“Penolakan Massal dan Ketegangan Sosial pasti terjadi jika perusahaan mengabaikan aspirasi lokal, ancaman terburuk adalah gelombang protes keras, demonstrasi, hingga bentrokan fisik antara warga adat, aparat keamanan, dan pihak perusahaan,” Tegas Zulkifli
Selain kerusakan lingkungan dan dampak jangka panjang, masalah tenaga kerja juga menjadi fokus utama, karena dalam perekrutan tenaga kerja kadang mengabaikan tenga kerja lokal, sehingga ikut memperburuk kondisi perekonomian warga. Padahal lehadiran suatu perusahaan di daerah semestinya memprioritaskan tenaga kerja lokal/anak daerah, bukan menjadikan warga loka menjadi penonton di negerinya sendiri.
“Muncul kekhawatiran bahwa perusahaan tidak memprioritaskan tenaga kerja lokal secara maksimal. Dampak terburuknya adalah masyarakat lokal hanya menjadi penonton di tanah mereka sendiri, sementara dampak lingkungan tetap harus ditanggung.
“Kami Menolak keras PT balam Energy Limited kembali beroperasi di SBT terkhsusnya di beberapa tempat yang sudah pernah menjadi titik awal eksplorasi PT.Balam,” Tutupnya.(KN-FS)









