KONTRANARASI.COM – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kini menyentuh level terendah dalam sejarah kembali menjadi perhatian publik. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu kenaikan harga kebutuhan pokok dan semakin menekan daya beli masyarakat.
Menanggapi situasi tersebut, Direktur Eksekutif Kontra Narasi, Zainal Irfandi Fesanlau, meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok di pasaran.
Menurutnya, pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada sektor perdagangan dan investasi, tetapi juga berpotensi meningkatkan biaya produksi serta distribusi barang kebutuhan masyarakat. Sejumlah daerah bahkan mulai melaporkan kenaikan harga komoditas penting seperti beras, gula pasir, minyak goreng, dan bawang merah seiring melemahnya nilai tukar rupiah.
“Pemerintah harus hadir dan memastikan harga bahan pokok tetap terkendali. Jangan sampai masyarakat kecil menjadi pihak yang paling merasakan dampak dari pelemahan rupiah yang terjadi saat ini,” ujar Zainal dalam keterangannya, Kamis (4/6/2026).
Ia menilai langkah stabilisasi harga melalui operasi pasar, penguatan cadangan pangan pemerintah, serta pengawasan distribusi bahan pokok perlu diperkuat agar tidak terjadi lonjakan harga yang membebani masyarakat.
Zainal juga mendorong pemerintah pusat bersama pemerintah daerah untuk memperketat pengawasan terhadap praktik penimbunan dan spekulasi yang berpotensi memperparah gejolak harga di pasar.
“Ketika nilai tukar rupiah melemah, yang paling penting adalah menjaga daya beli rakyat. Harga kebutuhan pokok harus menjadi prioritas utama pemerintah karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat,” tegasnya.
Data pasar menunjukkan rupiah sempat diperdagangkan mendekati level Rp 18.000 per dolar AS per hari ini. Pelemahan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor global, termasuk penguatan dolar AS, ketegangan geopolitik internasional, dan tingginya permintaan mata uang dolar di pasar keuangan.
Di sisi lain, Bank Indonesia telah melakukan berbagai langkah intervensi dan kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan penyesuaian suku bunga acuan.
Zainal berharap upaya menjaga stabilitas makroekonomi dapat berjalan beriringan dengan kebijakan perlindungan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan pemerintah menghadapi tekanan ekonomi global tidak hanya diukur dari stabilitas pasar keuangan, tetapi juga dari kemampuan menjaga harga kebutuhan pokok tetap terjangkau bagi rakyat.
“Yang dibutuhkan masyarakat hari ini adalah kepastian bahwa harga beras, minyak goreng, gula, dan kebutuhan sehari-hari lainnya tetap stabil. Pemerintah harus memastikan rakyat tidak menjadi korban dari gejolak ekonomi global,” pungkasnya.









