GIMIT Apresiasi Langkah Bupati Fachri, Pengembangan Industri Sagu Dinilai Bentuk Kecintaan Untuk Negeri

banner 468x60

KONTRANARASI.COM – Gerakan Intelektual Muda Indonesia Timur (GIMIT) memberikan apresiasi terhadap langkah Bupati Seram Bagian Timur (SBT), Fachri Husni Alkatiri, yang terus mendorong pengembangan potensi daerah melalui program hilirisasi dan industrialisasi sagu.

Apresiasi tersebut disampaikan Ketua Bidang Kebijakan Publik GIMIT, Muhamad Aswan Kelian, menyusul langkah Bupati Fachri melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) terkait pengembangan industri sagu di Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Kamis, (5/11/2026).

Menurut Muhamad Aswan Kelian, langkah tersebut merupakan bagian penting dari upaya pemerintah daerah dalam membawa potensi besar Kabupaten SBT agar mendapatkan perhatian dan dukungan lebih luas dari pemerintah pusat.

“Bagi kami, apa yang dilakukan Bupati Fachri merupakan bentuk kecintaan terhadap negeri Seram Bagian Timur. Beliau tidak hanya berbicara mengenai pembangunan, tetapi berusaha membawa potensi daerah ke tingkat pemerintah pusat agar dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat,” ujar Muhamad Aswan Kelian.

Ia menilai sagu merupakan salah satu kekayaan alam yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan di SBT. Karena itu, menurutnya, pengembangan industri sagu tidak boleh berhenti pada produksi bahan mentah, tetapi harus diarahkan menuju proses hilirisasi yang mampu menciptakan nilai tambah, lapangan pekerjaan, serta meningkatkan pendapatan masyarakat.

“Kalau sagu hanya dijual sebagai bahan mentah, maka nilai ekonominya belum maksimal. Tetapi kalau kita mampu membangun industri pengolahan dari hulu sampai hilir, maka masyarakat akan mendapatkan manfaat yang jauh lebih besar. Inilah yang harus kita dukung bersama,” katanya.

GIMIT menilai langkah Bupati Fachri sejalan dengan arah kebijakan pemerintah pusat yang saat ini mendorong hilirisasi berbagai komoditas unggulan Indonesia, termasuk sagu.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji sebelumnya menyampaikan bahwa sagu merupakan salah satu komoditas sumber daya alam yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Pemerintah juga telah menyatakan rencana pengembangan kawasan industri khusus berbasis sagu di Kabupaten Seram Bagian Timur karena potensi sagu di daerah tersebut dinilai melimpah.

Menurut Muhamad Aswan, kondisi tersebut harus menjadi momentum bagi seluruh elemen masyarakat SBT untuk memberikan dukungan terhadap kebijakan yang dapat membuka ruang pembangunan ekonomi baru.

“Ini bukan semata-mata program pemerintah daerah. Ini adalah kepentingan masyarakat SBT dalam jangka panjang. Ketika potensi sagu kita bisa dikembangkan menjadi industri, maka yang harus menjadi perhatian adalah bagaimana masyarakat lokal menjadi bagian utama dari rantai ekonomi tersebut,” tegasnya.

Ia berharap pengembangan industri sagu nantinya tidak hanya menghasilkan produk olahan, tetapi juga mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang melibatkan petani sagu, kelompok masyarakat, pelaku UMKM, koperasi, tenaga kerja lokal, hingga pelaku usaha daerah.

Muhamad Aswan menegaskan, pembangunan industri harus memberikan dampak langsung terhadap masyarakat. Karena itu, ia meminta agar agenda pengembangan industri sagu di SBT nantinya dibangun dengan prinsip keberpihakan kepada masyarakat lokal.

“Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton. Petani sagu harus mendapatkan manfaat, tenaga kerja lokal harus mendapatkan kesempatan, UMKM harus dilibatkan, dan anak-anak muda SBT harus diberikan ruang untuk mengambil bagian dalam industri ini,” jelasnya.

Menurutnya, apabila pengembangan sagu dilakukan secara terintegrasi, maka akan terbuka berbagai peluang ekonomi baru, mulai dari pengolahan pangan, tepung sagu, produk turunan pangan, hingga berbagai produk industri lainnya.

Hal tersebut juga sejalan dengan gagasan hilirisasi yang sedang didorong pemerintah pusat, yakni mengembangkan komoditas lokal agar tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Apresiasi Konsistensi Bupati Fachri

Lebih lanjut, GIMIT memberikan apresiasi terhadap konsistensi Bupati Fachri Husni Alkatiri dalam memperjuangkan agenda hilirisasi sagu SBT.

Muhamad Aswan mengatakan, perjuangan pemerintah daerah untuk membawa isu sagu ke tingkat nasional membutuhkan keberanian, konsistensi, dan kemampuan membangun komunikasi dengan pemerintah pusat.

“Tidak mudah membawa potensi daerah ke tingkat nasional. Karena itu, ketika Bupati Fachri terus melakukan komunikasi dan membangun kerja sama dengan pemerintah pusat, termasuk Kementerian Perindustrian, menurut kami itu harus diapresiasi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pengembangan industri sagu juga dapat menjadi salah satu instrumen untuk mempercepat pemerataan pembangunan di wilayah Maluku dan Indonesia Timur.

Menurutnya, selama ini banyak daerah di Indonesia Timur memiliki sumber daya alam yang besar, tetapi masih menghadapi persoalan keterbatasan industri pengolahan. Karena itu, hilirisasi menjadi penting agar kekayaan alam daerah dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat setempat.

“Potensi alam kita besar, tetapi yang harus kita bangun adalah industrinya. Jangan sampai bahan baku dari SBT keluar daerah, kemudian produk jadinya kembali ke masyarakat dengan harga yang jauh lebih tinggi. Kita harus mulai membangun rantai nilai itu di daerah sendiri,” kata Muhamad Aswan.

GIMIT Ajak Semua Pihak Dukung Program Strategis

GIMIT juga mengajak seluruh elemen masyarakat, pemuda, mahasiswa, pelaku usaha, tokoh masyarakat, DPRD, dan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kabupaten SBT untuk memberikan dukungan terhadap agenda pengembangan industri sagu.

Muhamad Aswan menilai pembangunan daerah membutuhkan kolaborasi dan tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah daerah.

“Kalau ini benar-benar ingin menjadi industri besar dan memberikan manfaat jangka panjang, maka semua pihak harus terlibat. Pemerintah menyiapkan kebijakan, masyarakat menyiapkan dukungan, pelaku usaha mengambil peluang, dan generasi muda harus mempersiapkan sumber daya manusia,” tuturnya.

Ia juga berharap kerja sama dengan pemerintah pusat dapat terus diperkuat sehingga SBT benar-benar mampu menjadi salah satu pusat pengembangan industri sagu di Indonesia.

“Bagi kami, perjuangan Bupati Fachri untuk membawa sagu SBT ke tingkat nasional adalah bentuk kecintaan terhadap negeri ini. Karena mencintai SBT bukan hanya dengan berbicara tentang daerah, tetapi juga dengan memperjuangkan bagaimana potensi daerah bisa menjadi sumber kesejahteraan masyarakat,” pungkas Muhamad Aswan Kelian.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *