KONTRANARASI.COM – Aktivitas di media sosial tidak selalu berbanding lurus dengan keterlibatan masyarakat dalam kehidupan nyata. Fenomena yang dikenal sebagai slacktivism, yakni kepedulian sosial yang berhenti pada tanda suka, komentar, atau membagikan konten, kini menjadi perhatian dalam upaya membangun karakter kewargaan generasi muda.
Persoalan tersebut menjadi salah satu gagasan utama dalam Pancawaluya Civic Movement, sebuah gerakan yang mendorong keterlibatan warga agar tidak berhenti di ruang digital, tetapi diterjemahkan menjadi aksi nyata di lingkungan sekitar.
Gerakan tersebut diperkenalkan melalui kegiatan yang berlangsung di Aula SMKN 2 Baleendah, Kabupaten Bandung. Sebanyak 50 guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dari SMK se-Kabupaten Bandung yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PKn ikut ambil bagian.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bersama Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat melalui program “Gerakan Civic Engagement Berbasis Karakter Pancawaluya melalui Kolaborasi Universitas, MGMP PKn, dan Dinas Pendidikan.”
Para peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga berdiskusi, mengembangkan gagasan, serta menyusun rencana aksi yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing.
Berangkat dari Riset tentang Perilaku Warga di Era Digital
Pancawaluya Civic Movement bukan sekadar program edukasi. Gerakan ini dikembangkan berdasarkan hasil penelitian Group Riset SPACE yang diketuai Dr. Leni Anggraeni, M.Pd., dosen sekaligus peneliti Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan Terintegrasi FPIPS UPI.
Sejumlah riset sebelumnya menjadi fondasi pengembangan gerakan tersebut, di antaranya D-CLIP yang melibatkan 931 mahasiswa dari UPI, ITB, dan UNESA, penelitian VERIFACT mengenai literasi digital kritis bagi Generasi Z, serta kajian mengenai anti-slacktivism pada komunitas urban di Bandung.
Berbagai penelitian tersebut memperlihatkan adanya tantangan dalam membangun partisipasi kewargaan generasi muda. Aktivitas di ruang digital dapat berlangsung sangat ramai, tetapi tidak selalu berlanjut menjadi keterlibatan langsung dalam menyelesaikan persoalan sosial.
Pancawaluya Civic Movement kemudian menawarkan pendekatan yang berangkat dari nilai-nilai kearifan lokal Sunda, yakni Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer.
Kelima nilai tersebut dikembangkan menjadi kerangka kewargaan aktif yang mencakup karakter warga kritis, etis, aktif, peduli, dan sejahtera.
Pendekatan ini diharapkan dapat membuat pendidikan kewarganegaraan lebih dekat dengan realitas kehidupan peserta didik sekaligus tetap berakar pada nilai budaya lokal.
Empat Narasumber Bahas Pendidikan Kewarganegaraan
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi.
Dr. Leni Anggraeni, M.Pd., memaparkan gagasan mengenai rekonstruksi civic engagement menuju active citizenship. Sementara Dr. Syaifullah, S.Pd., M.Si., mengajak para guru melihat kembali posisi PKn, tidak hanya sebagai mata pelajaran yang menyampaikan pengetahuan, tetapi juga sebagai instrumen pembentukan karakter.
Perspektif kebijakan pendidikan disampaikan Isma Muslihati Saleha, M.Pd., Konsultan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Adapun Dr. Sri Wahyuni Tanshzil, M.Pd., memberikan penekanan pada bagaimana merancang pembelajaran PKn yang memiliki dampak nyata bagi kehidupan peserta didik.
Dengan demikian, pembahasan tidak hanya berada pada tataran teori, tetapi diarahkan pada penerapan langsung dalam proses pembelajaran.
Guru Diajak Merancang Aksi Nyata
Berbeda dari seminar konvensional, kegiatan ini dirancang secara partisipatif. Peserta mengikuti sesi interactive talk and Q&A, kemudian dilanjutkan dengan workshop dan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Design Your Pancawaluya Civic Movement.”
Dalam sesi tersebut, para guru berkolaborasi menyusun gagasan gerakan yang dapat diterapkan di sekolah.
Gagasan yang telah dirancang kemudian dipresentasikan melalui showcase of ideas. Setelah itu, peserta menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai bentuk komitmen agar ide yang lahir dari kegiatan tidak berhenti setelah acara selesai.
Model tersebut menjadi bagian penting dari Pancawaluya Civic Movement karena keberhasilan gerakan tidak hanya diukur dari jumlah peserta atau materi yang disampaikan, tetapi dari seberapa jauh gagasan dapat diwujudkan menjadi aktivitas nyata.
Tiga Pilar untuk Menjaga Gerakan Tetap Berkelanjutan
Pancawaluya Civic Movement juga dibangun melalui tiga unsur yang saling mendukung.
Pertama, universitas dan peneliti berperan menyediakan basis keilmuan, riset, serta pendampingan. Kedua, MGMP PKn menjadi ruang bagi guru untuk bertukar pengalaman dan mengembangkan praktik pembelajaran. Ketiga, Dinas Pendidikan berperan memberikan dukungan dari sisi kebijakan sehingga gerakan dapat berkembang secara berkelanjutan.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mencegah gerakan berhenti sebagai kegiatan seremonial atau euforia sesaat.
Dari Ruang Kelas Menuju Dampak Sosial
Pesan utama Pancawaluya Civic Movement dirangkum dalam slogan “Think Civically, Act Locally, Impact Socially.”
Artinya, kemampuan berpikir kritis dapat dimulai dari persoalan sederhana di lingkungan sekitar, termasuk dari aktivitas di media sosial. Namun, kepedulian tersebut perlu diwujudkan melalui tindakan konkret yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bagi 50 guru PKn SMK se-Kabupaten Bandung yang mengikuti kegiatan tersebut, gerakan ini diharapkan menjadi momentum untuk mengubah pembelajaran kewarganegaraan dari sekadar hafalan dan pemahaman normatif menjadi proses pendidikan yang mendorong peserta didik terlibat langsung dalam kehidupan sosial.
Pancawaluya Civic Movement pada akhirnya membawa satu pesan penting: kepedulian tidak cukup hanya ditunjukkan melalui layar ponsel. Nilai kewargaan harus diwujudkan dalam tindakan.
“Satu Nilai, Sejuta Aksi, Untuk Indonesia.”









