Satu Nilai, Sejuta Aksi: 50 Guru PKn Kabupaten Bandung Bangun Gerakan Kewargaan dari Sekolah

banner 468x60

KONTRANARASI.COM – Di sudut Aula SMKN 2 Baleendah, seorang guru PKn terlihat serius mencorat-coret kertas kerja workshopnya. Bukan menyusun RPP seperti biasa, ia sedang merancang sebuah “gerakan” rencana aksi kewargaan yang nantinya akan ia ajak murid-muridnya jalankan bersama. Pemandangan seperti ini terjadi di banyak sudut ruangan, saat 50 guru PKn dari SMK se-Kabupaten Bandung mengikuti kegiatan PKM Kemitraan “Pancawaluya Civic Movement.”

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), MGMP PKn SMK Kabupaten Bandung dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, serta menjadi wujud nyata dari riset Group Riset SPACE yang diketuai Dr. Leni Anggraeni, M.Pd., dosen dan peneliti Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan FPIPS UPI.

Bertahun-tahun meneliti perilaku kewargaan digital generasi muda lewat riset D-CLIP, VERIFACT, dan studi anti-slacktivism, Dr. Leni akhirnya mempertemukan hasil risetnya langsung dengan mereka yang setiap hari berhadapan dengan siswa: para guru PKn itu sendiri.

Ketika Riset Bertemu Ruang Kelas
Bagi banyak guru PKn, mata pelajaran ini kerap distigma sebagai pelajaran hafalan — normatif, teoretis, jauh dari keseharian anak muda yang hidupnya lebih banyak dihabiskan di layar gawai. Pancawaluya Civic Movement hadir untuk membalik stigma itu, dengan menawarkan kerangka baru: lima nilai kearifan lokal Sunda Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer yang diramu menjadi model kewargaan aktif yang kontekstual sekaligus membumi.

Ketua MGMP PKn SMK Kabupaten Bandung, Ibu Rita Sumiati, S.Pd., M.Pd., mengaku kegiatan ini membuka perspektif baru bagi para guru di bawah koordinasinya.

“Selama ini kami sering merasa PKn itu berat di teori, tapi sulit turun ke aksi nyata di lapangan. Lewat Pancawaluya Civic Movement, kami jadi punya kerangka yang lebih jelas dan membumi nilai-nilai Sunda yang selama ini kami kenal sejak kecil, ternyata bisa jadi fondasi pembelajaran kewargaan yang relevan dengan tantangan siswa hari ini, termasuk soal dunia digital,” ujarnya. Kamis (19/72026).

Ia menambahkan, kolaborasi lintas sektor semacam ini antara universitas, MGMP, dan dinas pendidikan memberi ruang bagi guru untuk tidak berjalan sendiri. “Biasanya kami hanya mendapat pelatihan satu arah. Kali ini kami benar-benar dilibatkan merancang, bukan cuma mendengarkan,” tambahnya.

“Sekolah Kami jadi tuan Rumah Gerakan ini, dan itu berarti besar”.

Sebagai tuan rumah kegiatan, Kepala SMKN 2 Baleendah, Bapak H.Tatang, M.Pd., turut menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya program ini di sekolahnya.

“Kami merasa terhormat SMKN 2 Baleendah dipercaya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan ini. Bagi kami, ini bukan sekadar seremoni, tapi investasi jangka panjang. Ketika guru-guru PKn dibekali kerangka berpikir dan model pembelajaran yang lebih hidup seperti Pancawaluya, dampaknya akan langsung terasa di siswa bukan hanya di sekolah kami, tapi di seluruh SMK se-Kabupaten Bandung yang guru-gurunya hadir di sini,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara dunia akademik dan sekolah. “Riset seperti yang dilakukan Group SPACE UPI ini penting sekali untuk terus disambungkan ke praktik nyata di sekolah. Jangan sampai riset hanya berhenti di jurnal dan hari ini kami menyaksikan sendiri bagaimana riset itu benar-benar ‘mendarat’ menjadi sesuatu yang bisa langsung dipakai guru di kelas,” tambahnya, sekaligus menyampaikan harapan agar kolaborasi semacam ini terus berlanjut di masa mendatang.

Bukan Titik Akhir, tapi Titik Berangkat
Di penghujung kegiatan, setiap guru pulang membawa lebih dari sekadar sertifikat. Mereka membawa Rencana Tindak Lanjut (RTL) komitmen konkret untuk mempraktikkan Pancawaluya Civic Movement di sekolah masing-masing, sekaligus jejaring baru lintas sekolah yang bisa saling menguatkan lewat MGMP.

Bagi Dr. Leni Anggraeni dan tim Group Riset SPACE, momen ini menjadi bukti bahwa riset ilmiah bisa dan harus berjalan beriringan dengan kebutuhan nyata pendidik di lapangan. Dan bagi 50 guru yang hadir, Aula SMKN 2 Baleendah hari itu bukan titik akhir sebuah pelatihan melainkan titik berangkat dari gerakan kewargaan yang, sesuai semboyannya, berangkat dari “Satu Nilai, Sejuta Aksi, Untuk Indonesia.”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *