Kader HMI Cabang Ambon: Jangan Bangun Opini dari Informasi yang Tidak Terverifikasi

banner 468x60

KONTRANARASI.COM – Beredarnya poster yang memuat tudingan terkait “pencarian kader kabur” serta dugaan adanya persoalan utang dalam pelaksanaan Advance Training Tingkat Nasional BADKO HMI Maluku mendapat perhatian dari kader HMI Cabang Ambon, Hairul Rumata.

Hairul Rumata menilai informasi yang beredar perlu disikapi secara bijak dan tidak boleh langsung dipercaya sebelum dilakukan klarifikasi kepada pihak-pihak yang berkaitan langsung dengan kegiatan.

“Kita sebagai kader HMI harus mampu membedakan antara kritik, informasi, dan tudingan. Jangan sampai informasi yang belum terverifikasi justru menjadi konsumsi publik dan kemudian merusak nama baik kader maupun organisasi,” ujar Hairul Rumata pada Media Rabu (26/8/2026).

Menurut Hairul, dinamika dalam sebuah kegiatan maupun organisasi merupakan hal yang wajar. Namun, setiap persoalan semestinya diselesaikan melalui tabayun, komunikasi, dan mekanisme organisasi, bukan dengan membangun opini berdasarkan informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya.

Hairul: Jangan Jadikan Perbedaan sebagai Alasan Saling Menjatuhkan

Hairul juga menegaskan bahwa kritik terhadap kepanitiaan merupakan sesuatu yang sah dan penting sebagai bagian dari evaluasi. Akan tetapi, kritik harus disampaikan secara objektif, berdasarkan data, serta memberikan ruang kepada pihak yang dituding untuk menyampaikan klarifikasi.

“Kalau memang ada persoalan dalam kepanitiaan, mari kita buka secara terang. Kalau ada data, sampaikan datanya. Kalau ada masalah keuangan, periksa dan pertanggungjawabkan secara terbuka. Tetapi jangan kemudian persoalan yang belum jelas dibentuk menjadi tudingan yang seolah-olah sudah menjadi kebenaran,” tegasnya.

Hairul juga menyampaikan bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya dari Ali Alkatiri selaku Ketua Panitia Advance Training Tingkat Nasional BADKO HMI Maluku, terdapat pandangan bahwa informasi dan tudingan yang beredar terhadap dirinya merupakan bentuk kekecewaan dari sebagian pihak di lingkungan BADKO HMI Maluku yang juga menginginkan ruang dan peran dalam kepanitiaan tersebut.

Menurut keterangan yang diterima Hairul dari Ali Alkatiri, posisi Ketua Panitia yang dipercayakan kepadanya tidak terlepas dari proses dan jenjang pengkaderan yang telah ditempuhnya di HMI.

Namun, Hairul menilai hal tersebut seharusnya tidak menjadi alasan untuk membangun narasi yang dapat merugikan pribadi maupun organisasi.

“Kalau ada perbedaan kepentingan atau ada kader yang merasa memiliki kapasitas yang sama, mari kita bicarakan secara terbuka dan berdasarkan aturan organisasi. Jangan sampai perbedaan peran kemudian melahirkan tudingan dan opini yang justru merusak persatuan kader,” katanya.

Hairul menegaskan bahwa dirinya tidak hanya memberikan penilaian berdasarkan informasi yang beredar. Ia mengaku menyaksikan langsung pelaksanaan Advance Training Tingkat Nasional BADKO HMI Maluku dan melihat kegiatan tersebut berjalan dengan baik.

“Kami menyaksikan langsung bagaimana kegiatan Advance Training Tingkat Nasional BADKO HMI Maluku berjalan. Ada proses, ada panitia yang bekerja, ada peserta, ada pemateri nasional, dan seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan. Karena itu, jangan sampai kerja keras banyak orang kemudian ditutupi oleh narasi yang belum terverifikasi,” ujar Hairul.

Menurutnya, kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah pemateri dan tokoh nasional dan Daerah, di antaranya Gubernur Maluku Bapak Hendrik Lewerissa; Presidium KAHMI Maluku Kakanda Rovik Akbar Afifudin” Kakanda Doli Kurnia, Anggota DPR RI; TA Kementerian ESDM Kakanda Umar Ali Lessy: Yunda Betty Idroos dari KPU RI; Kakanda Taofik Dayanto; Sikka Songge; Faisal Satalohi, Sekda Kabupaten Maluku Tengah Kakanda Rakin Sahubawa; Sekkot Ambon Bapak Roberd Sapulette serta sejumlah pemateri lainnya.

Kehadiran para pemateri tersebut, menurut Hairul, menunjukkan bahwa kegiatan tersebut memiliki agenda pengkaderan dan penguatan intelektual kader yang perlu diapresiasi.

Kritik Boleh Keras, Tetapi Harus Berdasarkan Fakta

Hairul mengajak seluruh kader HMI untuk menjaga marwah organisasi dengan tidak ikut menyebarluaskan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.

Bagi Hairul, persatuan kader jauh lebih penting daripada mempertahankan sebuah narasi yang belum tentu benar. Kritik boleh keras, tetapi tetap harus berpijak pada etika, fakta, data, dan kepentingan organisasi.

“HMI adalah rumah besar kader. Perbedaan pandangan adalah hal biasa, tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita saling menjatuhkan. Kalau ada yang harus dikritik, kritiklah dengan data. Kalau ada yang harus dievaluasi, evaluasilah secara terbuka. Jangan jadikan media sosial sebagai ruang untuk menghakimi sebelum fakta diperiksa,” katanya.

Lebih lanjut, Hairul meminta seluruh pihak memberikan kesempatan kepada panitia untuk menyelesaikan proses pertanggungjawaban kegiatan sesuai mekanisme yang berlaku.

Ia juga mengingatkan bahwa persoalan kepanitiaan seharusnya tidak menghilangkan substansi utama dari sebuah Advance Training, yaitu proses pengkaderan, peningkatan kapasitas intelektual, kepemimpinan, serta kontribusi kader bagi organisasi dan masyarakat.

“Jangan biarkan informasi yang belum teruji kebenarannya mengalahkan fakta. Kita boleh berbeda dalam pandangan, tetapi kita harus tetap satu dalam menjaga marwah organisasi. Kalau ada persoalan, selesaikan dengan mekanisme organisasi. Jangan membangun opini sebelum kebenaran diketahui.”

Hairul berharap polemik yang berkembang tidak mengganggu semangat kader dalam menyukseskan agenda-agenda pengkaderan HMI di Maluku serta tidak menjadi alasan untuk memecah persatuan kader.

“Kita boleh berbeda posisi, berbeda pandangan, bahkan berbeda kepentingan. Tetapi jangan pernah berbeda dalam menjaga marwah HMI. Kritik dengan data, bicara dengan fakta, dan selesaikan persoalan dengan tabayun.”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *