Kolaborasi UPI, MGMP dan Dinas Pendidikan Jabar Dorong Gerakan Civic Engagement Berbasis Pancawaluya

banner 468x60

KONTRANARASI.COM – Ruang aula SMKN 2 Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tampak berbeda dari kegiatan pelatihan guru pada umumnya. Sebanyak 50 guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PKn SMK se-Kabupaten Bandung terlibat aktif dalam diskusi, merancang aksi nyata, hingga menyusun komitmen tindak lanjut untuk diterapkan di sekolah masing-masing.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari PKM Kemitraan “Pancawaluya Civic Movement” bertajuk “Gerakan Civic Engagement Berbasis Karakter Pancawaluya melalui Kolaborasi Universitas, MGMP PKn, dan Dinas Pendidikan.”

Program ini merupakan hasil kolaborasi Program Studi PPKn Terintegrasi Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bersama MGMP PKn SMK Kabupaten Bandung dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

Berangkat dari Hasil Riset

Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi forum pelatihan, tetapi merupakan bagian dari upaya menerjemahkan hasil riset ke dalam praktik pembelajaran di sekolah.

Ketua Group Riset SPACE sekaligus dosen dan peneliti Departemen Pendidikan Kewarganegaraan FPIPS UPI, Dr. Leni Anggraeni, M.Pd., hadir sebagai narasumber utama dengan materi “Pancawaluya Civic Movement: Rekonstruksi Civic Engagement untuk Membangun Active Citizenship Generasi Muda.”

Materi tersebut merupakan sintesis dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, di antaranya D-CLIP (Digital Civic Leadership and Innovation Project) melalui kolaborasi UPI, ITB, dan UNESA yang melibatkan 931 mahasiswa, penelitian VERIFACT mengenai literasi digital kritis bagi Generasi Z, serta studi mengenai anti-slacktivism yang menyoroti fenomena partisipasi digital yang berhenti pada aktivitas di layar.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kecenderungan generasi muda yang aktif menyampaikan pendapat melalui media digital, seperti memberikan tanda suka, membagikan konten, maupun berkomentar, tetapi belum selalu berlanjut menjadi aksi nyata di lingkungan sosial.

Persoalan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar pengembangan Pancawaluya Civic Movement.

Konsep tersebut mengangkat filosofi lima karakter kesempurnaan manusia dalam kearifan lokal Sunda, yakni Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer.

Cageur dimaknai sebagai sehat lahir dan batin, Bageur sebagai pribadi yang baik, Bener sebagai karakter jujur dan berintegritas, Pinter sebagai pribadi yang cerdas dan berwawasan luas, sedangkan Singer menggambarkan pribadi yang terampil dan cekatan.

Kelima nilai tersebut kemudian ditransformasikan menjadi lima dimensi civic engagement, yakni civic knowledge, civic disposition, civic skills, civic empathy, dan civic wellbeing.

Konsep tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi generasi muda untuk tumbuh sebagai warga negara yang kritis, beretika, memiliki kepedulian sosial, serta mampu mengubah partisipasi digital menjadi aksi nyata.

Tiga Pilar Kolaborasi

Selain Dr. Leni Anggraeni, kegiatan juga menghadirkan sejumlah narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi.

Dr. Syaifullah, S.Pd., M.Si., membahas transformasi pendidikan kewarganegaraan dari sekadar penguasaan civic knowledge menuju pembentukan civic character.

Sementara itu, Isma Muslihati Saleha, M.Pd., Konsultan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, memaparkan strategi mainstreaming Pancawaluya mulai dari tingkat kebijakan hingga gerakan kolaboratif di lingkungan sekolah.

Adapun Dr. Sri Wahyuni Tanshzil, M.Pd., mengajak para guru merancang pembelajaran PKn yang memiliki dampak nyata melalui pendekatan civic engagement.

Metode kegiatan dibuat interaktif melalui interactive talk and Q&A, workshop dan FGD bertajuk “Design Your Pancawaluya Civic Movement”, showcase of ideas, hingga sesi commitment to action berupa penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL).

Melalui tahapan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh materi, tetapi juga menghasilkan gagasan aksi yang dapat diterapkan secara langsung di lingkungan sekolah.

Dari Sekolah untuk Indonesia

Pancawaluya Civic Movement memiliki orientasi untuk membangun ekosistem kolaboratif yang melibatkan tiga unsur utama.

Pertama, universitas dan peneliti sebagai penyedia basis pengetahuan dan temuan empiris. Kedua, MGMP PKn sebagai ruang berbagi pengalaman serta praktik baik antarguru. Ketiga, Dinas Pendidikan sebagai bagian dari penguatan kebijakan agar gerakan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Jargon “Think Civically, Act Locally, Impact Socially” menjadi semangat yang digaungkan sepanjang kegiatan.

Pesan tersebut menekankan bahwa pendidikan kewarganegaraan tidak seharusnya berhenti pada teori maupun materi di ruang kelas. Nilai-nilai kewargaan perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan, kepedulian, dan aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi 50 guru PKn SMK se-Kabupaten Bandung yang mengikuti kegiatan di Aula SMKN 2 Baleendah, Pancawaluya Civic Movement menjadi ruang untuk memperkuat kembali peran guru sebagai penggerak pembentukan karakter kewargaan generasi muda.

Melalui gerakan tersebut, pembelajaran PKn diharapkan tidak hanya bersifat normatif, tetapi mampu melahirkan generasi yang kritis dalam bermedia, berakar pada kearifan lokal, memiliki kepedulian sosial, dan berani mengambil tindakan nyata.

Semangat itu dirangkum dalam semboyan yang menjadi penutup kegiatan: “Satu Nilai, Sejuta Aksi, Untuk Indonesia.”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *