Bula, KONTRANARASI.COM- Komitmen kuat Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) dalam mendorong hilirisasi komoditas lokal mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat. Hal ini tercermin dalam kegiatan silaturahmi dan makan malam bersama yang diinisiasi oleh Pemkab SBT di Pendopo Bupati, Kamis (6/8/2026).
Acara tersebut dihadiri langsung oleh Direktur Promosi dan Pemasaran Produk Unggulan Desa dan Daerah Tertinggal (PEID) Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Dr. H. Yusra, M.Pd., bersama CEO PT Sagulicius Indonesia Prima, Jeni Wijaya, serta jajaran pejabat daerah mulai dari Sekda hingga kepala dinas terkait.
Potensi Sagu SBT Siap Tembus Pasar Global

Dalam sambutannya, Bupati Kabupaten Seram Bagian Timur, Fakhri Husni Alkatiri, menegaskan bahwa sagu merupakan pilihan komoditas paling strategis untuk dikembangkan di wilayahnya. Dengan luas lahan mencapai 35.000 hektar jauh melampaui kabupaten pengusul lainnya SBT dinilai paling layak didorong sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk hilirisasi sagu di Indonesia.
“Dari tiga kabupaten yang mengusulkan hilirisasi sagu ke Bappenas dan Kementerian Perindustrian, SBT dianggap paling layak didorong jadi PSN karena luas hutan sagunya mencapai 35.000 hektar, sementara dua kabupaten lainnya di bawah 5.000 hektar,” ujar Bupati Fakhri.
Ia juga mengapresiasi inovasi produk turunan sagu yang kini mulai berkembang di tingkat home industry, seperti mi sagu dan bakso sagu hasil kreasi TP PKK setempat. Menurutnya, kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Desa dan pelaku industri seperti PT Sagulicius Indonesia Prima, akan membawa dampak besar bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat pemilik hutan sagu.
Penguatan Standar Higienis dan Perluasan Pasar oleh Kemendes
Menanggapi potensi besar tersebut, Direktur Promosi dan Pemasaran PEID Kemendes PDTT, Dr. H. Yusra, M.Pd., menyatakan kesiapan kementeriannya untuk mendukung penuh pengembangan ekonomi lokal di SBT melalui program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAT).

Yusra menekankan pentingnya standarisasi pengolahan produk agar mampu menembus pasar internasional. Edukasi terkait proses produksi yang higienis menjadi salah satu fokus utama agar komoditas lokal tidak terkontaminasi zat kimia atau pestisida yang dapat ditolak oleh detektor pasar global.
“Sagu ini tidak lagi hanya dikenal di Indonesia, tapi sudah sangat mendunia lewat berbagai pameran internasional. Kita akan terus edukasi bagaimana cara pengolahannya yang lebih higienis, mulai dari wadah hingga proses produksi, agar produk kita bisa sukses menembus pasar ekspor,” ungkap Dr. Yusra.
Ia juga memaparkan bahwa Kementerian Desa telah menggelontorkan alokasi anggaran yang signifikan untuk mendukung pengembangan ekonomi masyarakat di SBT, termasuk rencana bantuan tambahan melalui Rumah Inovasi Teknologi (LITT) guna mendongkrak skala ekonomi dan kesejahteraan warga.(WIR)









