KONTRANARASI.COM. JAKARTA — Pernyataan Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin yang dikaitkan dengan sorotan terhadap kepemimpinan NU dari kalangan HMI menuai perhatian. Syahrul Rumau pun angkat bicara dan meminta agar NU tidak dipandang sebagai milik kelompok atau golongan tertentu.
Syahrul menilai, Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi besar yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan keumatan dan kebangsaan Indonesia. Karena itu, menurutnya, perbedaan latar belakang organisasi seseorang tidak semestinya dijadikan alasan untuk mempertanyakan hak seseorang dalam berkontribusi terhadap kehidupan umat.
“NU milik bersama, bukan milik perseorangan. Jangan sampai NU dimonopoli atau diklaim hanya menjadi milik kelompok tertentu,” tegas Syahrul Rumau.
Soroti Narasi soal HMI
Syahrul juga menyoroti munculnya narasi yang mengaitkan kondisi NU dengan latar belakang organisasi HMI. Ia mengingatkan bahwa HMI memiliki sejarah panjang dalam melahirkan kader-kader intelektual yang turut mengambil bagian dalam pembangunan bangsa.
Menurut Syahrul, kontribusi kader dan alumni HMI tidak dapat dilepaskan dari dinamika kehidupan sosial, intelektual, keagamaan, dan kebangsaan Indonesia.
“HMI punya kontribusi besar dalam perjalanan keumatan dan kebangsaan. Jadi jangan melihat seseorang hanya dari organisasi tempat dia pernah berproses. Lihat kapasitas, integritas, gagasan, dan pengabdiannya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kritik terhadap sebuah organisasi merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Namun, kritik seharusnya tidak berkembang menjadi generalisasi terhadap kelompok tertentu.
“Jangan Jadikan NU Milik Segelintir Orang”
Syahrul mengatakan NU memiliki posisi strategis dalam kehidupan masyarakat sehingga harus dijaga bersama. Ia mengajak seluruh elemen organisasi untuk mengedepankan persatuan dan menghindari klaim eksklusif.
“NU terlalu besar untuk dipersempit menjadi milik perseorangan atau kelompok tertentu. NU adalah bagian dari perjalanan umat dan bangsa,” kata Syahrul.
Ia juga meminta agar perbedaan antara NU dan HMI tidak dijadikan alasan untuk membangun sekat. Menurutnya, setiap organisasi memiliki sejarah dan ruang pengabdian masing-masing.
“Kalau ada perbedaan pandangan, mari kita debat gagasannya, bukan menyerang latar belakang organisasinya. Jangan karena seseorang pernah berproses di HMI lalu kontribusinya dianggap tidak berarti,” lanjutnya.
Syahrul berharap polemik tersebut justru menjadi momentum untuk membuka ruang dialog yang lebih sehat antarelemen organisasi keumatan, kepemudaan, dan kebangsaan.
Baginya, NU harus tetap menjadi rumah besar yang dihormati, bukan arena perebutan klaim kepemilikan.
“Mari kita rawat NU dengan kebersamaan. Jangan monopoli NU. Kontribusi untuk umat tidak mengenal satu almamater organisasi saja,” pungkas Syahrul. (AR-FN)










