KONTRANARASI.COM — Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, mendapatkan jatah program cetak sawah seluas 1.362,37 hektare dari Pemerintah Pusat pada tahun 2026. Program tersebut menjadi peluang besar bagi daerah untuk meningkatkan produksi padi sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Lahan yang masuk dalam program cetak sawah tersebut tersebar di sejumlah desa transmigrasi di Kecamatan Bula Barat serta Dusun Transmigrasi Waikudal, Desa Batuasa, Kecamatan Werinama.
Hal tersebut disampaikan Bupati SBT Fachri Husni Alkatiri dalam sambutannya pada kegiatan panen perdana padi sawah di Desa Aki Jaya, Kecamatan Bula Barat, Senin (10/8/2026).
“Pemerintah Kabupaten SBT pada tahun 2026 ini mendapatkan program cetak sawah rakyat seluas 1.362,37 hektare, yang tersebar di Kecamatan Bula Barat dan Kecamatan Werinama,” ujar Fachri.
Bupati Fachri menyambut baik program tersebut dan menegaskan dukungan penuh Pemerintah Kabupaten SBT terhadap pelaksanaannya.
Menurutnya, program cetak sawah rakyat merupakan salah satu langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Kehadiran program tersebut dinilai membuka peluang bagi SBT untuk meningkatkan produksi padi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
“Program ini memberikan peluang besar bagi daerah kita untuk meningkatkan produksi padi, mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani,” katanya.
Fachri mengatakan, SBT memiliki potensi sumber daya lahan yang cukup luas untuk dikembangkan menjadi kawasan pertanian produktif. Potensi tersebut, kata dia, harus dikelola secara terencana dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan serta kepastian status pemanfaatan lahan.
Dengan pengelolaan yang tepat, penambahan areal persawahan diharapkan tidak hanya memperluas lahan tanam, tetapi juga mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.
Namun, Bupati Fachri mengingatkan bahwa keberhasilan program cetak sawah tidak cukup hanya dengan membuka lahan baru. Tantangan berikutnya adalah memastikan lahan tersebut benar-benar produktif dan mampu menghasilkan panen secara optimal.
Program cetak sawah tidak berhenti pada pembukaan lahan semata. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan lahan tersebut dapat ditanam secara baik dan menghasilkan panen yang optimal,” pungkasnya. (KN-AR)









