KONTRANARASI.COM – Pelantikan pengurus Pimpinan Wilayah Serikat Mahasiswa Muslim Indonesia (PW SEMMI) Sumatera Selatan periode 2026-2028 yang menetapkan M. Yoga Prasetyo sebagai ketua, resmi digelar pada Sabtu, (16/5/2026) Kemarin.
Acara yang berlangsung di Aula Rumah Dinas Walikota Palembang ini tidak hanya menjadi ajang regenerasi kepemimpinan, tetapi juga diwarnai dengan gagasan kritis dan fundamental terkait pelurusan sejarah pergerakan kaum muda dan bangsa.
Kegiatan pelantikan tersebut turut dihadiri oleh Gubernur Sumatera Selatan yang diwakili oleh Sekretaris Bakesbangpol Sumsel, Staf Ahli Walikota Palembang, serta Anggota DPRD Kota Palembang, Arris Alkautsar.
Dalam kesempatan bersejarah ini, Teuku Muhammad Farhan selaku Ketua Bidang Politik PB SEMMI yang hadir mewakili Pengurus Besar SEMMI, melontarkan gagasan tajam terkait sejarah pergerakan bangsa. Ia secara lugas mengusulkan agar peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang selama ini dirayakan setiap 20 Mei, ditinjau kembali dan disesuaikan dengan hari lahirnya Sarekat Dagang Islam (SDI) pada Oktober 1905.
Menurut Farhan, narasi sejarah yang menempatkan Boedi Oetomo (berdiri 20 Mei 1908) sebagai tonggak kebangkitan nasional perlu dikritisi secara objektif. Faktanya, Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh saudagar batik H. Samanhudi pada Oktober 1905, lahir lebih dulu dan memiliki rekam jejak perjuangan yang jauh lebih merakyat.
Lebih dari sekadar urutan waktu, catatan sejarah menunjukkan perbedaan mendasar pada corak pergerakan kedua organisasi. Boedi Oetomo dikenal memiliki corak pergerakan yang sangat elit-sentris, di mana keanggotaannya didominasi oleh kaum priyayi, bangsawan, dan pegawai pemerintah kolonial.
Sebaliknya, Sarekat Dagang Islam (yang kemudian bertransformasi menjadi organisasi massa Sarekat Islam di bawah kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto pada 1912) tampil sebagai pelopor yang membumi. SDI adalah gerakan pertama yang berhasil mengkonsolidasi kekuatan rakyat luas secara masif di bumi nusantara, bukan hanya segelintir elit. SDI merangkul kaum pedagang, pekerja, dan masyarakat kelas bawah untuk bersatu memperjuangkan kedaulatan ekonomi dan politik mereka dari hegemoni kolonial.
“Buku-buku sejarah kita menulis bahwa Boedi Oetomo adalah organisasi modern pertama, tetapi bagi saya, Sarekat Dagang Islam adalah pelopor yang mengkonsolidasi rakyat banyak, bukan hanya kaum priyayi. Oleh karena ini bulan Mei, maka bolehlah kita sedikit membayangkan ke depan bahwa Hari Kebangkitan Nasional diperingati ketika Sarekat Dagang Islam berdiri saja, alih-alih 20 Mei,” tegas Farhan.
Selain meluruskan narasi sejarah, Farhan juga mengingatkan kader SEMMI tentang bahaya fenomena Hyperpolitics yang menjangkiti anak muda saat ini. Ia menyoroti kondisi di mana pemuda sangat bising di dunia digital dan media sosial, namun sunyi dalam aksi kolektif yang berdampak nyata pada kebijakan.
“SEMMI tidak boleh hanya menjadi organisasi yang ramai di media sosial namun sepi gagasan dan gerakan. Kita harus hadir di kampus, di tengah masyarakat, mengawal kebijakan publik, memperjuangkan ekonomi umat, dan menjadi pelopor literasi politik generasi muda,” pesannya.
Mengutip pesan keras Sang Guru Bangsa, H.O.S. Tjokroaminoto, Farhan mengingatkan agar rakyat Indonesia tidak terus menjadi “sapi perahan” yang darahnya diisap oleh ketimpangan ekonomi dan sistem oligarki. Ia menyayangkan jika mahasiswa saat ini lelap dan minim kepedulian terhadap isu-isu fundamental penentu nasib bangsa, seperti pengawalan aturan main prosedural pemilu.
Di akhir orasinya, Farhan menginstruksikan agar PW SEMMI Sumsel di bawah komando M. Yoga Prasetyo dapat menjadi ruang belajar dan pusat kesadaran baru.
Ia menuntut seluruh kader untuk memiliki karakter juang yang kuat dengan semboyan: “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, dan sepandai-pandai siyasah.









