KONTRANARASI.COM – Momentum Hari Buruh Internasional (May Day) tahun ini di kawasan Monumen Nasional kembali menegaskan bahwa buruh bukan sekadar elemen produksi, melainkan subjek utama dalam pembangunan nasional. Kehadiran Presiden secara langsung di tengah ratusan ribu pekerja menjadi simbol pengakuan negara terhadap posisi strategis kelas pekerja dalam menopang arah ekonomi bangsa.
Pidato Presiden yang menekankan keberpihakan kepada buruh, khususnya dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan menata ulang sistem ketenagakerjaan, dinilai bukan sekadar retorika politik. Langkah tersebut mulai terlihat melalui sejumlah kebijakan konkret, salah satunya inisiatif negara melalui yang mulai masuk dalam struktur kepemilikan platform digital seperti Gojek.
Kebijakan ini diarahkan untuk menurunkan beban potongan aplikator hingga berada pada kisaran 8 persen, sehingga dapat memberikan dampak langsung terhadap peningkatan pendapatan pekerja sektor informal, khususnya pengemudi ojek online yang selama ini berada dalam posisi tawar yang lemah di tengah dominasi platform digital,”Ujar Achmad Dony Bendahara Umum PB SEMMI dalam keterangannya pada Jumat (1/5/2016).
PB SEMMI menilai langkah tersebut mencerminkan arah baru kebijakan ekonomi nasional yang lebih progresif, di mana negara tidak lagi hanya bertindak sebagai regulator, tetapi juga hadir sebagai aktor yang memastikan terciptanya keadilan dalam ekosistem ekonomi digital.
Meski demikian, pendekatan tersebut juga harus dijalankan dalam kerangka tata kelola yang transparan dan akuntabel. Negara perlu memastikan bahwa kehadirannya bukan sekadar menggantikan peran kapital swasta, melainkan benar-benar menjadi instrumen keadilan sosial sebagaimana amanat konstitusi.
Dalam konteks itu, pengawasan publik menjadi sangat penting, termasuk dari kalangan mahasiswa dan pemuda, agar setiap kebijakan tetap berpihak pada kepentingan rakyat secara luas dan tidak keluar dari semangat demokrasi ekonomi.
PB SEMMI memandang bahwa semangat Hari Buruh tidak boleh berhenti pada seremonial tahunan semata, melainkan harus menjadi titik konsolidasi untuk membangun sinergi antara negara, pekerja, dan generasi muda dalam menghadapi tantangan ekonomi nasional di era digital.
Mahasiswa, sebagai kekuatan moral dan intelektual bangsa, memiliki tanggung jawab untuk mengawal setiap transformasi kebijakan agar tetap berada pada jalur keadilan, keberlanjutan, serta kemandirian ekonomi nasional,”Tuturnya.
Dengan semangat nasionalisme dan keberpihakan kepada rakyat, PB SEMMI mendorong seluruh elemen bangsa untuk terus mengawal dan memperkuat langkah-langkah progresif demi terwujudnya masa depan pekerja Indonesia yang lebih bermartabat, sejahtera, dan berkeadilan sosial.









