Alarm dari Timur, Kornas Presidium Pemuda Timur: Ketimpangan Pembangunan Tak Bisa Lagi Diabaikan

banner 468x60

KONTRANARASI.COM – Suasana hangat Halal Bihalal Kornas Presidium Pemuda Timur yang digelar di Jakarta Selatan, Sabtu (28/3/2026), berubah menjadi forum refleksi serius. Di balik nuansa kebersamaan pasca-Idulfitri, mengemuka kritik tajam terkait ketimpangan pembangunan yang masih membayangi kawasan Indonesia Timur.

Forum yang awalnya dirancang sebagai ajang silaturahmi itu justru dipenuhi suara-suara kegelisahan. Perwakilan pemuda dari berbagai daerah di Indonesia Timur menilai arah pembangunan nasional hingga kini belum sepenuhnya adil, dengan kecenderungan kuat terpusat di wilayah barat Indonesia.

Koordinator Nasional Presidium Pemuda Timur, Sandri Rumanama, menegaskan bahwa ketimpangan ini tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan biasa. Ia menyebut perlunya kesadaran kolektif seluruh elemen bangsa untuk mendorong percepatan pembangunan di kawasan timur.

“Pembangunan Indonesia Timur bukan sekadar agenda pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Ketertinggalan yang dirasakan hari ini lahir dari lemahnya semangat kolektif kita,” tegasnya.

Sandri juga mengingatkan bahwa pembangunan sejatinya tidak hanya berbicara soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut dimensi moral dan tanggung jawab sosial. Ia menilai, kontribusi terhadap daerah adalah bagian dari komitmen etis yang harus dijalankan oleh semua pihak.

Lebih jauh, ia mendorong agar Kornas Presidium Pemuda Timur tidak berhenti sebagai simbol organisasi semata, melainkan tampil sebagai kekuatan sosial yang nyata, mengonsolidasikan aspirasi, memperkuat solidaritas, dan mengawal kebijakan pemerataan pembangunan.

Senada dengan itu, tokoh nasional Haidar Alwi juga mengungkapkan pengalaman langsungnya saat mengunjungi Ambon. Ia melihat adanya kontras yang mencolok antara kekayaan alam yang dimiliki Maluku dan kondisi kesejahteraan masyarakatnya.

Menurutnya, potensi besar yang dimiliki wilayah tersebut belum mampu diterjemahkan menjadi kemakmuran yang merata. Bahkan, ia menilai kesenjangan dengan wilayah seperti masih sangat terasa.

“Maluku kaya secara sumber daya, tetapi masyarakatnya belum sepenuhnya menikmati hasilnya. Ketimpangan ini terlihat jelas dari infrastruktur hingga fasilitas ekonomi yang masih terbatas,” ujarnya.

Haidar menegaskan, persoalan tersebut bukan sekadar isu teknis, melainkan masalah struktural yang membutuhkan komitmen jangka panjang dan kebijakan yang berpihak.

Diskusi dalam forum ini pun mengerucut pada satu pesan kuat: percepatan pembangunan Indonesia Timur harus menjadi prioritas nasional. Hal itu menuntut keberpihakan kebijakan yang konkret, sinergi lintas sektor, serta peran aktif generasi muda sebagai agen perubahan.

Melalui momentum Halal Bihalal ini, Kornas Presidium Pemuda Timur menegaskan komitmennya untuk terus berada di garis depan dalam mengawal isu pemerataan pembangunan. Mereka ingin memastikan bahwa masa depan Indonesia dibangun secara inklusif tanpa meninggalkan kawasan timur sebagai halaman belakang pembangunan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *