Meneropong Masa Depan Anak Yatim Piatu Korban Bencana Sumatera
Penulis: Martin Siahaan
Kontrranarasi.com – Korban meninggal dunia akibat Bencana Sumatera meninggalkan PR besar bagi bangsa Indonesia. Data korban meninggal dunia masih terus dihitung, Jumat (12/12/2025) tercatat 990 orang meninggal dan 222 masih dinyatakan hilang. Trend menunjukkan dari hari per hari angka masih terus bertambah. Pertanyaan utama pada masalah ini adalah berapa ratus atau ribuan
anak kemudian yang akan menjadi yatim piatu?
Realitas tentang ini jarang mendapat sorotan, baik dari pemerintah maupun influencer yang menyoroti situasi terkini kondisi bencana secara langsung. Sebagai pembaca, kita seperti disuguhi “perlombaan” eksposur dari kedua kelompok soal siapa lebih cepat dan lebih baik. Lalu lintas informasi digital lebih banyak memberikan spotlight tentang kengerian harta benda yang hilang, kelaparan, wilayah terisolir. Tapi sulit sekali menemukan kepekaan terhadap kondisi anak-anak yang kehilangan kedua orang tuanya dan jumlahnya berapa banyak.
Anak yang kehilangan keluarganya dalam bencana Sumatera akan mengalami kerentanan pada masa yang akan datang. Anak akan terputus dari nilai-nilai yang membentuk mereka sebagai individu-makhluk sosial. Melompat lebih jauh terhadap kondisi masa depan, kerentanan akan mendekatkan mereka kepada perdagangan anak. Seharusnya bangsa ini telah belajar banyak dari peristiwa Tsunami Aceh, Palu-Donggala-Sigi, dan bencana besar lainnya. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana saat ini kondisi anak-anak yatim piatu korban bencana? Seolah kita amnesia, kita melupakan mereka termarginalkan dan tidak banyak yang peduli dengan nasib
mereka.
Pierre Bourdieu mengemukakan, habitus terbentuk melalui proses sosialisasi panjang dalam keluarga, terutama dari orang tua yang mentransmisikan nilai, perilaku, cara berbicara, dan persepsi tentang dunia kepada anak-anak mereka. Anak-anak yang ditinggal kematian orang tua telah mengalami proses sosialisasi primer yang terputus mendadak. Ini bukan sekedar kehilangan finansial, tetapi kehilangan reproduktor utama dari habitus mereka.
Habitus dan Posisi Sosial Baru yang Marginal
Salah satu dimensi paling penting dari habitus menurut Bourdieu adalah hubungannya dengan posisi sosial. Habitus membentuk cara orang memahami posisi mereka dalam struktur sosial dan apa yang mereka anggap sebagai “mungkin” atau “tidak mungkin” bagi diri mereka sendiri.
Anak-anak yatim piatu korban bencana mengalami perubahan drastis dalam posisi sosial mereka. Dari anak-anak dengan orang tua yang mungkin memiliki pekerjaan, rumah, dan status sosial tertentu, mereka tiba-tiba menjadi anak-anak tanpa dukungan keluarga inti, sering kali dirawat oleh kerabat jauh atau lembaga sosial. Dalam konteks Indonesia, status anak yatim piatu sering kali memiliki stigma sosial dan ekonomi yang kuat.
Habitus mereka yang sedang berkembang kini harus menyesuaikan diri dengan realitas baru sebagai individu yang marginal secara sosial. Mereka mungkin menginternalisasi persepsi bahwa mereka “berbeda”, “kurang beruntung”, atau bahkan “tidak layak” dibandingkan dengan anak-anak lain yang masih memiliki orang tua. Ini menciptakan “rasa diri” yang rusak (damaged sense of self) dan dapat mempengaruhi aspirasi mereka untuk masa depan.
Dalam beberapa kasus, anak-anak yatim piatu diambil alih oleh kerabat atau lembaga sosial yang memiliki habitus yang berbeda dari keluarga asli mereka. Merekamungkin disosialisasikan kembali menurut nilai-nilai dan disposisi baru. Ketika individu beralih antara lapangan sosial (fields) yang berbeda, mereka dapat mengembangkan habitus berganda yang saling bertentangan. Dalam kasus anak-anak yatim piatu, ini dapat menciptakan konflik identitas yang serius – mereka mungkin mengingat habitus keluarga asli mereka sambil dipaksa untuk mengadopsi habitus baru, menciptakan ketidakselarasan internal yang menyakitkan.
Mengingat betapa seriusnya situasi yang akan dihadapi anak-anak yatim piatu korban bencana, selaku sesama saudara sebangsa yang diikat Pancasila sebagai landasan hidup, kita berharap banyak antaraktor saat ini yang berselisih opini untuk berhenti. Selain pemulihan fisik yang rusak-ada pemulihan sosial yang sama pentingnya, tanpa ikatan solidaritas persaudaraan sebangsa disintegrasi Indonesia akan membayangi.
“Penulis merupakan Ketua Umum DPP Barisan rakyat 1 Juni (Barak 106)”










