KONTRANARASI.COM – Kehadiran Raffi Ahmad Pada acara deklarasi sumpah pemuda yang gelar pada 29 Oktober di kawasan Bundaran Hotel Indonesia atau Bundaran HI menjadi perhatian publik dan ramai diperbincangkan di media sosial.
Namun, masyarakat diminta untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan potongan video maupun narasi yang beredar di ruang digital.
Sebab, melihat sebuah peristiwa secara utuh menjadi hal yang penting agar publik tidak terjebak pada kesimpulan yang keliru.
Dewan Pimpinan Nasional Komite Merah Putih, Afandi Tomagola, menegaskan bahwa kehadiran seseorang dalam sebuah kegiatan harus dilihat berdasarkan konteks dan kapasitasnya,” Ujar Afandi, Jumat (30/10/2026).
Menurut Afandi, seseorang yang hadir sebagai tamu dalam sebuah kegiatan tidak otomatis dapat dimaknai sebagai pihak yang mewakili seluruh kegiatan, kelompok, maupun kepentingan tertentu.
Oleh Karena itu, ia meminta agar tidak ada pihak yang sengaja memotong konteks sebuah peristiwa kemudian menyebarkannya seolah-olah memiliki makna yang berbeda.
Di tengah derasnya arus informasi media sosial, masyarakat memang dituntut semakin cermat. Sebab, sebuah video pendek dapat dengan mudah dipisahkan dari konteksnya, kemudian menjadi bahan untuk membangun opini tertentu.
Afandi Tomagola menilai, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menyebarkan informasi yang tidak utuh atau belum terverifikasi.
Ia juga mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Terlebih, Raffi Ahmad dalam kesempatan tersebut menyerukan agar para pemuda tidak terpecah-belah oleh hoaks.
Pesan ini dinilai penting, mengingat media sosial saat ini menjadi salah satu sumber utama masyarakat mendapatkan informasi. Kecepatan penyebaran informasi harus diimbangi dengan sikap kritis dan kehati-hatian.
DPN Komite Merah Putih menegaskan, kritik boleh disampaikan, perbedaan pendapat juga merupakan bagian dari demokrasi. Namun, semuanya harus tetap berdasarkan fakta dan tidak memelintir konteks.
Jangan sampai sebuah kehadiran seseorang kemudian dijadikan bahan untuk membangun tudingan atau kesimpulan yang tidak sesuai dengan fakta sebenarnya,”Tambahnya.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak langsung percaya terhadap informasi yang beredar. Pastikan sumbernya, pahami konteksnya, dan jangan ikut menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya. Karena menjaga persatuan jauh lebih penting daripada memenangkan sebuah narasi.
DPN Komite Merah Putih mengajak seluruh masyarakat untuk tetap tenang, kritis, dan cerdas dalam menerima setiap informasi.
Afandi juga menegaskan bahwa, Jangan salah memahami konteks. Serta Jangan mudah terprovokasi. Jangan biarkan hoaks memecah persatuan, “Tutupnya.








