KONTRANARASI.COM – Ratusan warga yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Lengkong Bersatu menggelar aksi unjuk rasa di depan Restoran Naked Papa, kawasan Lengkong Kulon, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (5/8/2026).
Aksi tersebut berlangsung di tengah sorotan masyarakat terhadap transparansi restoran dalam menyajikan informasi mengenai produk makanan non-halal yang dijual kepada konsumen.
Berdasarkan informasi yang disampaikan massa aksi, restoran tersebut diketahui menyediakan produk non-halal di samping sejumlah menu lainnya. Namun, massa menilai informasi mengenai produk tersebut belum disampaikan secara terbuka, khususnya terkait mekanisme pemisahan dalam proses pengolahan makanan maupun penyajiannya kepada konsumen.
Koordinator lapangan aksi, Fahri Pradana, mengatakan pihaknya meminta manajemen restoran memberikan informasi yang jelas dan mudah terlihat mengenai keberadaan produk non-halal.
Menurutnya, pemasangan label atau logo non-halal di bagian depan restoran diperlukan sebagai bentuk keterbukaan kepada masyarakat sehingga konsumen dapat menentukan pilihan berdasarkan informasi yang mereka terima.
“Kami meminta manajemen memasang label atau logo non-halal yang jelas di bagian depan restoran. Ini penting agar masyarakat mendapatkan informasi secara jujur dan transparan,” ujar Fahri di lokasi aksi.
Selain persoalan transparansi produk makanan, massa juga mempersoalkan pola komunikasi antara pihak restoran dengan masyarakat sekitar.
Fahri menyebut, upaya dialog yang sebelumnya dilakukan Pemuda Lengkong Bersatu tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Ia menilai terdapat sikap dari salah satu pihak manajemen yang dianggap kurang kooperatif dalam membangun komunikasi dengan warga.
“Kami mendesak Agus selaku manajer yang dianggap tidak berkomunikasi dengan baik dan bertindak arogan untuk dievaluasi,” kata Fahri.
Massa menilai komunikasi yang baik antara pengelola usaha dan masyarakat sekitar merupakan hal penting, terlebih sebuah usaha berada di tengah lingkungan permukiman dan berinteraksi langsung dengan warga.
Dalam aksi tersebut, Pemuda Lengkong Bersatu juga membawa persoalan ketenagakerjaan. Mereka meminta pihak restoran maupun perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut memberikan kesempatan lebih besar kepada masyarakat sekitar untuk mendapatkan pekerjaan.
Menurut massa, keberadaan usaha di suatu wilayah semestinya turut memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal, termasuk melalui penyerapan tenaga kerja dari lingkungan sekitar.
Tak hanya itu, massa juga menyoroti penggunaan fasilitas umum, khususnya bahu jalan, yang dinilai berkaitan dengan aktivitas restoran.
Pemuda Lengkong Bersatu meminta penggunaan bahu jalan untuk aktivitas usaha dihentikan apabila terbukti mengganggu kepentingan masyarakat dan menyebabkan terganggunya kelancaran arus lalu lintas.
Mereka menilai fasilitas umum harus digunakan sesuai peruntukannya dan tidak boleh menimbulkan kerugian bagi masyarakat maupun pengguna jalan lainnya.
Di tengah berlangsungnya aksi, perwakilan massa sempat diterima pihak manajemen untuk melakukan dialog. Namun, pertemuan tersebut dinilai belum menghasilkan kesepakatan yang memenuhi seluruh tuntutan massa.
Karena itu, Pemuda Lengkong Bersatu memberikan batas waktu kepada manajemen Restoran Naked Papa hingga Jumat mendatang untuk merespons tuntutan yang mereka sampaikan.
Massa bahkan menyatakan akan kembali menggelar aksi dengan jumlah peserta yang lebih besar apabila tuntutan tersebut tidak mendapatkan penyelesaian.
Pemuda Lengkong Bersatu menegaskan, aksi tersebut merupakan bentuk penyampaian aspirasi masyarakat yang meminta adanya transparansi, komunikasi yang lebih baik, pemberdayaan tenaga kerja lokal, serta penggunaan fasilitas umum yang tertib.
Mereka berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui dialog dan langkah konkret dari pihak manajemen sehingga tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar di tengah masyarakat.









