Rekonstruksi Sosial Pasca Bencana Sumatera Tidak Boleh Diabaikan
Penulis: Martin Siahaan (Ketua Umum Barak 106)
Kontranarasi.com – Peristiwa banjir bandang dan longsor yang terjadi pada 25 – 30 November 2025 atau yang dikenal dengan Bencana Sumatera menelan banyak korban, baik yang meninggal dunia maupun luka-luka. Selain itu, Bencana Sumatera juga meninggalkan korban materi yang tidak sedikit. Dokumentasi foto dan video dari berbagai sumber digital memperlihatkan rumah hancur, harta benda hilang, jalanan rusak dan juga kendaraan bermotor menjadi rongsokan di jalanan karena
terendam lumpur.
Saat awal bencana kondisi bahkan lebih tragis. Air bersih tidak ada, bahan makanan langka, orang-orang kelaparan. Masyarakat yang mengalami bencana berada dalam kondisi anomie atau keputusasaan. Penyintas dihantui ketakutan akan mati kelaparan. Situasi sulit ini melahirkan dua pilihan, semakin solid sesama penyintas atau lebih memilih menyelamatkan
diri sendiri. Ketika dilihat dalam kelompok keluarga, pilihan lebih sulit mendahulukan unit keluarga inti atau keluarga besar.
Sosiolog Universitas Yale, Kai Erikson (1931-2025) memberikan pemahaman fundamental bagaimana bencana menciptakan trauma kolektif yang merusak fondasi komunitas. Dalam karyanya “Everything in Its Path” yang diterbitkan tahun 1976 tentang Bencana Buffalo Creek, Erikson memberitahu kita bahwa dampak bencana melampaui kerusakan fisik, menciptakan “less of flesh” atau kehilangan identitas komunal yang mendalam.
Kondisi serupa yang diteliti Erikson pada masyarakat Buffalo Creek juga dialami masyarakat penyintas Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ketika penyintas Bencana Sumatera melihat harta benda mereka sirna dan hilang ditelan banjir/longsor, mereka melihat bagian diri mereka sendiri mati. Menurut Erikson, kehilangan rumah atau seluruh kepemilikan adalah kehilangan bukti identitas dan rasa memiliki di dunia.
Apa yang dialami korban bencana Sumatera akan melahirkan suatu kondisi yang digambarkan Erikson sebagai perubahan moral dan perilaku sosial. Selain itu juga hilangnya sesuatu yang tidak bisa dijelaskan merupakan kondisi ketidakberdayaan, depresi, dan kehampaan eksistensial yang tidak dapat dijelaskan dengan angka.
Bencana alam merupakan faktor eksternal dalam menggerakkan perubahan sosial. Arah dan sifat perubahan sangat dipengaruhi oleh kondisi pra-bencana, komunitas, struktur sosial yang ada, dan keputusan-keputusan aktor dalam proses pemulihan. Pemulihan pasca bencana Sumatera tidak boleh memfokuskan kepada pemulihan fisik semata. Perubahan Sosial yang akan terjadi haruslah menjadi konsentrasi utama. Jika perubahan sosial yang terjadi mengarah kepada perilaku individualistik pada masa yang akan datang, akan merugikan bangsa Indonesia. Bagaimanapun trauma kolektif yang dialami penyintas akan menciptakan perilaku sosial yang baru. Arah program pemulihan pasca bencana tidak bisa diabaikan begitu saja, arah perubahan sosial kita seharusnya menuju solidaritas persaudaraan sebangsa










