Perkuat Jurnalis di Era Digital, Founder Kontra Narasi Tegaskan Pers Penjaga Demokrasi

Foto : Founder Kontra Narasi Sandri Rumanama (Ist)

KONTRANARASI.COM – Komunitas Kontra Narasi menggelar Diskusi Pra Uji Kompetensi Wartawan (PRA-UKW) sekaligus Penguatan Kapasitas Jurnalis dalam Produk Digital dan Kreator Konten selama dua hari, Kamis–Jumat (5–6 Februari 2026), di Sofyan Hotel, Tebet, Jakarta Selatan. Kegiatan ini diikuti sekitar 150 peserta yang berasal dari beragam latar belakang jurnalis dan pegiat media.

Rangkaian kegiatan diawali dengan seminar pada hari pertama yang membahas isu-isu fundamental dunia pers. Sementara itu, hari kedua difokuskan pada pelatihan teknis untuk meningkatkan kapasitas jurnalis dalam menghadapi tantangan media digital yang terus berkembang.

Founder Kontra Narasi, Sandri Rumanama, menegaskan bahwa pers memiliki posisi strategis sebagai salah satu pilar utama demokrasi. Ia menyebut kebebasan pers sebagai fondasi penting dalam menjaga ruang publik yang sehat, terbuka, dan berkeadilan.

“Pers adalah pilar demokrasi. Ketika pers dibungkam, itu menjadi tanda bahaya bagi demokrasi. Kita bisa melihat di berbagai negara, ketika kebebasan pers dipersempit, yang terancam bukan hanya media, tetapi juga hak publik untuk mendapatkan informasi,” ujar Sandri dalam sambutannya, Kamis (5/2/2026).

Menurutnya, pers yang independen berperan sebagai pengawas kekuasaan sekaligus penyalur aspirasi masyarakat. Oleh karena itu, menjaga kebebasan pers berarti juga menjaga kualitas demokrasi itu sendiri.

Selain menyoroti kebebasan pers, Sandri juga menekankan pentingnya supremasi sipil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia menilai jurnalisme yang kuat dan profesional berkontribusi besar dalam memastikan prinsip-prinsip sipil tetap menjadi rujukan utama dalam tata kelola negara.

“Supremasi sipil tidak bisa dilepaskan dari peran pers. Media yang kritis, berimbang, dan berpihak pada kepentingan publik akan membantu memastikan bahwa kekuasaan berjalan dalam koridor hukum dan demokrasi,” katanya.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, Sandri menilai jurnalis dituntut untuk terus beradaptasi. Menurutnya, kemampuan menulis saja tidak lagi cukup. Jurnalis perlu memahami produksi konten digital lintas platform, terutama konten audio visual yang kini semakin diminati publik.

“Tren informasi bergerak kuat ke arah audio visual. Karena itu, jurnalis perlu memiliki kemampuan tambahan sebagai kreator konten, tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik,” ujarnya.

Dalam sesi pelatihan, para peserta dibekali berbagai keterampilan produksi konten digital, mulai dari pengolahan audio visual hingga strategi penyajian informasi yang efektif di platform digital. Pelatihan ini bertujuan agar jurnalis mampu menjangkau audiens yang lebih luas dengan format yang relevan dan kontekstual.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pemateri dari berbagai institusi, seperti TVRI, Komisi Informasi Pusat, serta perwakilan Humas Polri. Para pemateri berbagi pengalaman dan perspektif seputar praktik jurnalisme, keterbukaan informasi publik, serta tantangan komunikasi di era digital.

Melalui kegiatan ini, Kontra Narasi berharap dapat menjadi ruang penguatan kapasitas sekaligus refleksi bagi para jurnalis dalam menghadapi tantangan kebebasan pers dan transformasi media di tengah dinamika demokrasi yang terus bergerak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *