Melihat Sisi Lain Media Sosial dari Buku “Matinya Media Sosial”

KONTRANARASI.COM – Masihkah media sosial yang kita kenal saat ini layak disebut sebagai media sosial, ataukah media yang lahir dari kebutuhan orang untuk bersosialisasi secara _online_ ini sudah tidak relevan lagi? Semuanya diceritakan Tulus Santoso sebagai sebuah efleksi atas pengalaman dan pengamatannya yang disampaikan dengan bahasa yang ringan, sehingga mudah dipahami.

“Matinya Media Sosial” dijelaskan oleh penulis bukan sebagai  akhir atau punahnya media sosial. Mati dalam buku ini maksudnya adalah hilangnya aspek sosial dari media sosial sebagai jembatan interaksi antar personal maupun kelompok yang tidak terbatasi jarak dan waktu.

Penulis mengungkapkan kehadiran media sosial pada awalnya sarat dengan narasi kemandirian dan kemerdekaan. Perkembangan teknologi yang kemudian melahirkan media sosial disebut sebagai instrumen pembebasan, khususnya dari dominasi media lama yang bersifat satu arah, terpusat, dan dikuasai para pemodal. Sayangnya, seiring waktu, kemurnian cita-cita luhur media sosial mulai terkikis seiring pengaruh komersialisasi.

Keprihatinan yang dirasakan penulis ini sangat beralasan. Media sosial yang tampak idealis di awal kemunculannya, ternyata telah berubah menjadi sistem kompleks sekaligus komersil. Dinamika ini ternyata ikut mengubah perilaku dan arah komunikasi dari penggunaannya.

Konektivitas yang awalnya sebagai tujuan utama, makin hari maknanya semakin menyempit. Sekarang ini konektivitas hanya diartikan sebagai sebuah “like” dan “share”. Pada kenyataannya kualitas keterhubungan semakin menurun di dalam koneksi media sosial.

“Matinya Media Sosial” juga menyinggung algoritma. Penulis menyebut pertemanan di media sosial makin diatur oleh sistem. Platform memprioritaskan konten bukan dari “teman dekat” tetapi ditentukan berdasarkan interaksi digital. Jadi tidak lagi murni dari kedekatan secara emosional.

Buku ini memberikan perspektif lain dalam memandang media sosial. Penulis sukses menyajikan sisi lain media sosial yang selama ini selalu didiskusikan dalam cerita positif. Kehadiran buku ini tentu dapat menambah kewaspadaan dan kehati-hatian pembaca dalam memaknai pergaulan di media sosial.

 

Penulis: Rianzi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *