Wandan: Negeri yang Menolak Tunduk

Foto : Rikman Sanmas/Ist

Wandan: Negeri yang Menolak Tunduk

Penulis: Rikman Sanmas

KONTRANARASI.COM – Wandan lahir dari laut dan pala, dari angin timur yang membawa perahu perahu jauh, dan dari tanah yang menyimpan aroma sejarah. Ia bukan sekadar nama yang terucap dalam catatan lama, melainkan jiwa sebuah negeri, jiwa yang menolak bertekuk lutut. Di gugusan Kepulauan Banda, orang orang Wandan tumbuh sebagai rumah bagi manusia-manusia merdeka yang memahami arti harga diri jauh sebelum kata “kolonialisme” dikenal.

Di Banda Neira, masyarakat Wandan membangun kehidupannya di atas adat dan kebebasan. Pala dan fuli bukan hanya hasil bumi, ia adalah amanah leluhur, dikelola dengan kearifan, diperdagangkan tanpa paksaan, dan dijaga dengan kehormatan. Dari dermaga kecil hingga samudra luas, orang orang Wandan berlayar, berjumpa, dan berdagang tanpa pernah menyerahkan kedaulatan pada siapa pun.

Lalu datanglah bangsa Eropa dengan bendera, senjata, dan perjanjian yang tak setara. Datang dengan janji yang berlapis tipu dan hasrat yang tak pernah kenyang. Ketika VOC memaksakan monopoli atas pala urat nadi kehidupan masyarakat Wandan yang diminta bukan sekadar harga dan jalur dagang, melainkan penyerahan jiwa. Dan di titik itulah masyarakat Wandan berkata tidak.

Penolakan itu sunyi namun tegas. Ia hidup dalam keputusan keputusan kecil yang berani, menolak kontrak sepihak, menyembunyikan hasil bumi, menjaga rahasia tanah. Masyarakat Wandan memahami satu kebenaran sederhana bahwa hidup tanpa merdeka adalah kematian yang dipanjangkan. Maka perlawanan menjadi bahasa, dan keteguhan menjadi doa.

Tahun 1621 menorehkan luka yang tak pernah sepenuhnya sembuh. Kekerasan turun seperti badai, menumbangkan kampung kampung, memisahkan keluarga, dan merenggut nyawa. Tanah dirampas, adat dipatahkan, dan manusia dijadikan angka. Namun bahkan dalam gelap yang paling pekat, cahaya perlawanan tak padam. Kolonialisme mungkin menguasai tubuh, tetapi tidak pernah mampu menguasai ruh masyarakat Wandan.

Di punggung bukit dan tepi laut, benteng benteng kolonial didirikan Benteng Belgica dan Benteng Nassau sebagai penanda kuasa asing. Namun waktu membalik maknanya. Batu-batu itu kini berdiri sebagai saksi bisu perlawanan, bukan sebagai lambang kepatuhan. Ia mengingatkan bahwa setiap tembok penjajah selalu berdiri di atas tanah yang pernah melawan.

Masyarakat Wandan tidak hilang. Mereka berubah menjadi ingatan, menjelma cerita, berdiam di sebutan soa, dalam ritme adat, dan dalam kesadaran orang Banda hari ini. Masyarakat Wandan hidup di antara jeda ombak dan senyap senja mengajarkan bahwa keberanian tidak selalu berteriak, tetapi bertahan. Bahwa martabat tidak selalu menang, tetapi tidak pernah menyerah.

Sejarah sering ditulis oleh pemenang, namun kebenaran disimpan oleh mereka yang bertahan. Dan Wandan bertahan sebagai negeri yang menolak tunduk, sebagai pesan lintas zaman bahwa kebebasan adalah hak, bukan hadiah. Ia mengajarkan satu pelajaran yang tak lekang, bahwa lebih baik kehilangan segalanya, daripada kehilangan harga diri.

Negeri Wandan bukan masa lalu yang usai.
Ia adalah api kecil yang dijaga, agar generasi esok tahu di tanah pala ini, pernah ada negeri yang memilih merdeka.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *